ATTIJANIYYAH
Syekh Ahmad al-Tijani (1150-1230 H, 1737-1815 M) dikenal
di dunia Islam melalui ajaran thariqat yang dikembangkannya yakni
Thariqat Tijaniyah. Untuk mengetahui kehidupan Syekh Ahmad al-Tijani,
Penulis menelusurinya melalui Kitab-kitab yang memuat kehidupan dan
ajaran Syekh Ahmad al-Tijani terutama kitab-kitab yang di tulis Khalifah
Syekh Ahmad al-Tijani diantaranya kitab Jawahir al-Ma`ani
(Mutiara-mutiara Ilmu). tulisan Syekh Ali Harazim.
Dalam kitab-kitab
yang menulis kehidupan Syekh Ahmad al-Tijani, disepakati bahwa Syekh
Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi,
sebuah desa di Al-jazair. Mengenai tanggal kelahirannya sampai sekarang
belum diketahui secara pasti. Secara geneologis Syekh Ahmad al-Tijani
memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu
al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam
Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn
Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn
Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana
Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah
al-Zahra putri Rasuluullah saw.
Nama al-Tijani diambil dari suku
Tijanah yaitu suatu suku yang hidup di sekitar Tilimsan, Aljazair; dari
pihak ibu, dan Syekh Ahmad al-Tijani berasal dari suku tersebut.
Keluarga Syekh Ahmad Al-Tijani adalah keluarga yang dibentuk dengan
tradisi taat beragama. Dikatakan, bahwa ayah Syekh Ahmad al-Tijani
adalah seorang ulama yang disiplin menjalankan ajaran agama. Ketika
Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia balig dinikahkan oleh ayahnya. Sejak
usia berapa tahun beliau menikah? Dalam kitab-kitab yang menulis
riwayat hidup Syekh Ahmad al-Tijani tidak dijelaskan. Namun apabila
dihubungkan dengan tahun meninggal kedua orang tuanya, mereka meninggal
berturut-turut pada tahun yang sama yakni tahun 1166 H. Diduga beliau
nikah antara usia 15-16 tahun, sebab beliau lahir pada tahun 1150 H.
Dari hasil pernikahannya beliau mempunyai dua orang putra yakni Muhammad
al-Habib dan Muhammad al-Kabir yang kelak secara berturut-turut
memimpin zawiyah (pesantren Sufi yang beliau dirikan). Mengenai tempat
meninggalnya, dalam kitab-kitab yang menulis Syekh Ahmad al-Tijani,
disepakati bahwa beliau wafat di kota Fez Maroko. Hal ini bisa
dimengerti karena sebagaimana akan dilihat nanti, di kota ini Syekh
Ahmad al-Tijani mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ajarannya
dengan dukungan penguasa. Dengan demikian tidak ada alasan bagi beliau
untuk meninggalkan Maroko. Sebagaimana tempat wafatnya, tahun wafatnya
pun disepakati, yakni beliau wafat pada tahun 1230 H., dengan demikian
beliau wafat dalam usia 80 tahun, karena beliau lahir pada tahun 1150 H.
Demikian juga mengenai hari dan tanggal wafatnya, disepakati bahwa
beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal dan dimakamkan di kota
Fez Maroko.
Landasan dan Rumusan tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani
Dasar-dasar
tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani di bangun di atas landasan dua corak
tasawuf, yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Dengan kata lain,
Syekh Ahmad al-Tijani menggabungkan dua corak tasawuf, dimaksud dalam
ajaran thariqatnya. Pengkajian menyangkut tasawuf falsafi, bukan sesuatu
hal yang sederhana, sebab pengkajian ini sudah masuk dalam wilayah
pemikiran; dan kaum thariqat, terlebih ummat Islam pada umumnya yang
mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memasuki wilayah ini sangat
terbatas. Keterbatasn ini, ditunjukan dalam sejarah pekembangan
pemikiran Islam khusunya bidang tasawuf, banyak ummat Islam, menilai,
bahwa tasawuf falsafi dianggap sebagai pemikiran yang menyimpang dari
ajaran syari’at Islam.
Dasar-dasar tasawuf falsafi yang dikembangkan
Syekh Ahmad at-Tijani adalah tentang maqam Nabi Muhammad saw., sebagai
al-Haqiqat al-Muhammadiyyah dan rumusan wali Khatam. Dua hal ini telah
dibahas oleh sufi-sufi filusuf, seperti al-Jilli, ibn al-Farid dan ibn
Arabi. Tentang pemikiran sufi-sufi ini, Syekh Ahmad al-Tijani
mengembangkan dalam amalan shalawat wirid thariqatnya, yakni : shalawat
fatih dan shalawat jauhrat al-Kamal. Konsep dasar haqiqat
al-Muhammadiyyah ini disamping kontroversial, ia juga complicated. Atas
dasar ini, tidaklah mengherankan apabila Syekh Ahmad al-Tijani
memberikan “aba-aba” kepada setiap orang, termasuk muridnya yang ingin
memasuki secara lebih jauh tentang diri dan thariqatnya. Untuk itu Syekh
Ahmad al-Tijani menegaskan :
إِذَا سَمِعْهتُمْ عَنِّى شَيْأً فَزِنُوْهُ بِمِيْزَانِ الشَّرْعِ فَمَا وَافَقَ فَخُذُوْهُ وَمَاخَالَفَ فَاتْرُكُوْهُ
Artinya
: “Apabila kamu mendengar apa saja dariku, maka timbanglah ia dengan
neraca (mizan) syari’at. Apabila ia cocok, kerjakanlah dan apabila
menyalahinya, maka tinggalkanlah”.
Menurut KH. Fauzan, penegasan
Syekh Ahmad al-Tijani ini merupakan pertanggung jawaban yang terbuka,
lapang dada dan menyeluruh terhadap ajaran yang dikembangkannya,
Sedangkan KH. Badruzzaman melihat bahwa penegasan Syekh Ahmad al-Tijani
tadi menunjukan pertaggung jawabannya bahwa segala sesuatu yang
diungkapkannya mempunyai dasar-dasar syari’at.
Hemat penulis,
penegasan Syekh Ahmad al-Tijani di atas dilatar belakangi dua hal :
Pertama; Ia sendiri menyadari banyak ungkapan-ungkapan pengalaman
spiritual dan fatwanya, akan sulit dijangkau oleh pemahaman masyarakat
umum. Untuk itu, beliau menekankan untuk senantiasa mengembalikan kepada
tatanan dasar syair’at. Dengan kata lain, secara terbuka dan tegas ia
mengharuskan setiap orang yang akan meneliti ajarannya untuk senantiasa
terlebih dahulu memahami petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi
Muhammad saw., secara menyeluruh dan mendalam. Kedua; Penegasan
tersebut, dikarenakan “kekhawatirannya”, akan terjadi salah atau kurang
tepat dalam memahami pengalaman spiritual dan fatwanya-fatwanya,
sehingga tidak sesuai atau salah alamat dari apa yang dimaksudkan oleh
dirinya. Kekhawatiran ini, didasarkan atas upaya penggabungan dua corak
tasawuf yang dirumuskan dalam bentuk bacaan thariqatnya sebagai mana
telah disebutkan. Sejak abad ke- Hijri, ajaran tasawuf terpisah menjadi
dua corak yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang dalam sejarah
perkembangannya masing-masing mempunyai metode tersendiri. Sebagai wali
yang mengaku memperoleh maqam wali khatm, al-Quthb al-Maktum, ia
menyatukan kembali dan atau mengutuhkan kembali dua corak tasawuf
tersebut. Hemat penulis, disinilah keunggulan Syekh Ahmad al-Tijani. Dan
diduga peran inilah yang dimaksud dengan ungkapannya :
“Dua kakiku ini di atas tengkuk semua Waly Allah Swt.”
Agaknya,
hal tersebut di atas, sangat diantisipasi oleh KH. Badruzzaman, ia
menegaskan, bahwa dalam melihat dan memahami fatwa-fatwa Syekh Ahmad
al-Tijani, senantiasa harus melihatnya melalui petunjuk al-Qur’an dan
sunnah secara menyeluruh dan mendalam, lahiriyah dan batiniyah.
Penegasan KH. Badruzzaman ini, didasarkan atas pengalaman dirinya dalam
menganalisis Syekh Ahmad al-Tijani dan Thariqatnya; dimana sebelum
merintis pengembangan ajaran thariqat tijaniyah, ia adalah “penentang
yang gigih” terhadap thariqat ini. Landasan tasawuf Syekh Ahmad
al-Tijani, sebagai mana telah dijelaskan membangun rumusan tasawufnya.
Ada dua rumusan tasawuf yang dikemukakannya.
:
a. Tentang definisi tasawuf; menurut Syekh Ahmad al-Tijani, tasawuf adalah :
إِمْتِثَالُ اْلاَوَامِرِ وَاجْتِنَابُ النَّوَاهِى فِى الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ مِنْ حَيْثُ يَرْضَ لاَمِنْ حَيْثُ تَرْضَ
Artinya
: “Patuh mengamalkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik
lahir maupun batin, sesuai dengan ridha-Nya bukan sesuai dengan
ridha’mu”.
Melalui rumusan definisi di atas, Syekh Ahmad
al-Tijani ingin menunjukan bahwa pada dasarnya, ajaran tasawuf merupakan
pengamalan syari’at Islam secara utuh, sebagai sarana menuju Tuhan dan
menyatu dalam kehendak-Nya. Keterpaduan dalam tasawuf yang diajarkan
Syekh Ahmad al-Tijani antara amaliah lahir dan amaliah batin, adalah
sebagai wujud pengamalan syari’at Islam secara keseluruhan. Sebab pada
bagian lain ia menyatakan bahwa ilmu tasawuf adalah : “Ilmu yang terpaut
dalam qalbu para wali yang bercahaya karena mengamalkan al-Qur’an dan
sunnah.
Sejalan dengan pendapat ini, al-Tusturi (w. 456 H.)
mengatakan bahwa ilmu tasawuf dibangun melalui kekuatan keterikatan
terhadap Qur’an dan Sunnah. Sebagai wujud keterikatan Syekh Ahmad
Al-Tijani dan thariqatnya terhadap syari’at, ia mengatakan bahwa syarat
utama bagi orang yang mau mengikuti ajarannya adalah memelihara shalat
lima waktu dan segala urusan syari’at. Dalam mengomentari landasan
tasawuf yang diajarkan Syekh Ahmad al-Tijani, Muhammad al-Hapidz dalam
ahzab wa awrad, mengatakan
:“Landasan pokok Thariqat Tijaniyah yang
menjadi asas penopangnya adalah menjaga syari’at yang mulia, baik
ilmiyah maupun alamiyah”
Sedangkan KH. Badruzzaman, mengatakan
bahwa landasan pokok Thariqat tijaniyah adalah memelihara syari’at yang
mulia baik yang berhubungan dengan amaliah kalbu seperti khusyu
(khusyuk), ikhlas (ikhlas) dan tawadha (rendah hati).
b. Tentang
penegasan ajaran tasawufnya Sebagai wujud penekanan keterikatan
ajarannya terhadap syari’at, Syekh al-Tijani menegaskan bahwa patokan
utama pengembangan ajarannya adalah al-Qur’an dan sunnah. Lebih tegas ia
menyatakan
:
وَلَنَا قَاعِدَةٌ وَاحِدَةٌ عَنْهَا تُنْبِئُ
جَمِيْعَ اْلأُصُوْلِ اَنَّهُ لاَحُكْمَ اِلاَِّللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَلاَعِبْرَةَ فِى الحُكْمِ اِلاَّ بِقَوْلِ الله ِوقَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Kami hanya mempunyai
satu pedoman (Kaidah) sebagai sumber semua pokok persoalan (ushul),
bahwasanya tidak ada hukum kecuali kepunyaan Allah dan Rasul-Nya, tidak
ada ibarat dalam hukum kecuali firman Allah swt., dan sabda Rasul-Nya.
Penekanan Syekh Ahmad al-Tijani ini, dimaksudkan untuk menegaskan
keterikatan ajarannya terhadap syari’at (al-Qur’an dan sunnah).
Syeikh
Ahmad bin Muhammad Al-Hasani lahir pada Hari Kamis, 13 Shafar 1150 H.
di Ain Madhi atau disebut juga dengan Madhawi, di Sahara Timur Maroko.
Dari keluarga besar/Kabilah Tijan. Kabilah ini banyak melahirkan
ulama-ulama dan wali-wali yang shaleh.
Dari garis ayah adalah
Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad Salim bin Al ‘id
bin Salim bin Ahmad Al-‘Alwani bin Ahmad bin Ali bin Abdulloh bin
Al-Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Ishaq bin Ali Zainal Abidin bin
Ahmad bin Muhammad An-Nafsiz Zakiyah bin Abdulloh bin Hasan Al-Mutsanna
bin Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Tholib dan Sayyidah Fatimatuzzahra
binti Rasulullah Muhammad SAW.
Dari garis ibu adalah Ahmad binti Sayyidah Aisyah binti Abu Abdillah Muhammad bin As-Sanusi At-Tijani Al-Madhawi.
Keabsahan
silsilah ini berdasarkan beberapa keterangan garis keturunannya secara
turun temurun. Juga dinyatakan langsung oleh Rasululloh SAW: “Engkau
benar-benar anakku (Anta waladi haqqan). Nasabmu melalui Hasan bin Ali
adalah shahih.”
Kedua orang tuanya mengasuh dengan didikan
beberapa etika sunah, rahasia syari’at dan cahaya kebenaran. Sehingga
masa kecilnya sangat terjaga. Beliau pun tumbuh dalam kebesaran akhlak
muhammadiyah. Pada umur 7 tahun telah hafal Alqur’an dalam qira’at Imam
Nafi’ dengan baik di bawah bimbingan gurunya, Sayid Muhammad bin Hamawi
At-Tijani. Seorang guru yang alim dan terkenal keshalehan serta
kewaliannya. Al-Hamawi terkenal sebagai pendidik anak-anak di Ain Madhi.
Diceritakan bahwa Sayid Muhammad bin Hamawi mimpi bertemu Allah SWT dan
membaca Alqur’an dalam Qira’at Imam Warasy sehingga khatam. Allah SWT
berfirman kepadanya: “Demikianlah Alqur’an diturunkan.” Beliau meninggal
pada tahun 1162 H.
Pendidikannya dilanjutkan dengan mempelajari
beberapa ilmu yang bermanfaat. Seperti: Ilmu Usul, Furu’ dan Adab. Orang
tua Syeikh Ahmad sangat mempercayakan pendidikan masa kecil Syeikh
kepada Al-Hamawi. Syeikh banyak mempelajari cabang ilmu dari Al-Hamawi.
Dengan kecerdasannya Beliau cepat menguasai beberapa ilmu
dengansempurna.
Di samping Al-Hamawi, Syeikh Ahmad menyelesaikan
Al-Mukhtasor karya Imam Kholil, Ar-Risalah karya Ibnu Rusyd dan
Al-Muqaddimah karya Imam al-Akhdhari dari gurunya yang lain, Sayid
Al-Mabruk bin Bu Afiyah At-Tijani. Tahun 1166 H. kedua orang tuanya
meninggal pada hari yang bersamaan, karena penyakit tho-un/lepra yang
mewabah. Yaitu ketika Syeikh Ahmad berumur 16 tahun. Dalam usia yang
relatif muda, Syeikh telah menunjukkan kelebihannya dan keluasan
ilmunya. Dunia ilmu pendididikan terus dijalaninya. Sejak kedua orang
tuanya meninggal, Syeikh tetap aktif dalam membaca ilmu, mengajar,
menulis dan memberi fatwa.
Pada tahun 1171 Syeikh mulai memasuki
dunia sufi. Dalam salah satu fatwanya Syeikh Ahmad bin Muhammad
At-Tijani berkata: “Dalam nash syara’ hanya diterangkan kewajiban tiap
orang untuk memenuhi beberapa hak Alloh secara penuh, lahir dan batin.
Tanpa adanya alasan apa pun. Tidak ada alasan apa pun untuknya dari hawa
nafsu dan kelemahannya. Dalam syara’ hanya mewajibkan hal tersebut dan
mengharamkan lainnya. Karena adanya siksa. Tidak ada kewajiban mencari
guru selain guru ta’lim yang mengajarkan tata cara perkara syara’ yang
dituntut untuk dilaksanakan seorang hamba. Baik berupa perintah yang
harus dikerjakan dan larangan yang harus ditinggalkan. Tiap orang bodoh
harus mencari guru ini. Tidak ada keluasan atau alasan meninggalkannya.
Ada pun guru-guru lainnya setelah guru ta’lim tidak ada kewajiban
mencarinya menurut syara’. Akan tetapi wajib mencarinya dari sisi
nadhar. Seperti halnya orang yang sakit dan kehilangan kesehatannya.
Apabila dia keluar untuk mencari kesembuhannya, maka mencarinya adalah
wajib. Kami katakan wajib mencari dokter yang ahli dalam mendiagnosa
penyakit, asalnya, obatnya, cara memperolehnya.
Jawaban Syeikh ini
memberikan kejelasan dalam masalah pencarian guru. Karena sebagian ulama
telah mengatakan bahwa meninggalkan pencarian terhadap guru tarbiyah
dianggap maksiat.
Dari sini dapat diketahui bahwa masuknya Syeikh
dalam dunia sufi tidak dikarenakan mengikuti kebanyakan manusia yang
dilakukan zaman sekarang. Mereka memasuki sebuah jalan tujuan, tanpa
adanya pertimbangan berdasarkan pengetahuan tentang sesuatu yang sedang
mereka masuki. Mereka memasuki jalan tidak lebih karena anggapan
sebagian orang yang menilainya dengan keindahan luarnya belaka. Syeikh
memasuki dunia sufi berdasarkan pemikiran dan pengetahuan pada sesuatu
yang dikehendakinya dan memantapkannya. Sebagai bukti seorang murid
(pencari kebenaran) yang shadiq. Murid yang mengetahui keagungan
Rububiyah dan hak-hak Ilahiyah. Mengetahui bagian yang ada dalam
dirinya, berupa kelemahan, kemalasan, menyukai kenikmatan, dan
meninggalkan amal shaleh. Di mana jika keadaan itu terus ada dalam
dirinya akan menyebabkannya tidak dapat memperoleh puncak tujuan
dunia-akhirat. Itu pun dilakukan setelah menguasai cabanng-cabang ilmu.
Pengetahuannya membawa dirinya untuk segera kembali dengan tekad,
semangat dan kemantapan; mencari seorang yang dapat membuka belenggu
syahwatnya dan menunjukkannya kepada jalan untuk sampai ke hadapan
Robnya.Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Ini adalah ciri
murid shadiq (pencari kebenaran sejati). Adapun lainnya hanya murid
thalib atau pencari biasa. Terkadang dia dapat mendapatkan hasil.
Terkadang tidak mendapatkan apa-apa.” Oleh karenanya sebagian ulama
mengatakan bahwa setiap orang yang awalnya kokoh, maka akhirnya akan
sempurna.
Menginjak usia 21 tahun Syeikh melakukan berbagai kunjungan
ke beberapa daerah di Fas. Melakukan banyak diskusi dengan beberapa
ahli kebaikan, agama, rehabilitasi jiwa, dan penemu kebahagian hakiki.
Lawatan itu mengantarkannya ke Gunung Zabib dan bertemu dengan seorang
wali kasyaf yang memberikan isyarat agar kembali ke negeri atau
daerahnya, yaitu Ain Madhi. Wali tersebut memeberitahukan akhir
kedudukan yang akan dicapainya. Tanpa harus menetap di daerah lain.
Kemudian Syeikh segera kembali ke daerahya. Orang yang paling banyak
mewarnai corak kehidupan Syeikh adalah Sayid Abdul Qadir bin Muhammad.
Seorang kutub yang tinggal di ‘negeri putih’ (Baladul Abyadh) Shahara
Dzar. Daerah ini agaknya tidak jauh di Ain Madhi. Karena di sela-sela
pengabdiannya, Syeikh sering pulang ke rumahnya. Syeikh menetap di
Zawiyahnya 5 tahun untuk menuntut ilmu, mengajar dan beribadah.
Selanjutnya Syeikh tetap tinggal di Ain Madhi sesuai dengan petunjuk
wali kasyaf di Gunung Zabib.
Di antara beberapa guru yang ditemui
Syeikh dalam perjalanan ke Fas dan sekitarnya adalah wali kutub yang
terkenal, Maulana Ahmad As-Shaqali Al-Idrisiyah, salah seorang ternama
dalam Thariqat Khalwatiyah di Fas. Dalam pertemuannya ini As-shaqali
tidak banyak melakukan pembahasan. Syeikh pun tidak mengambil apa pun
darinya. Kemudian Syeikh bertemu dengan Sayid Muhammad bin Hasan
Al-Wanjali. Salah seorang wali kasyf di sekitar Gunung Zabib. Ketika
bertemu, sebelum mengucapkan apa pun, Al-Wanjali berkata kepada Syeikh
Ahmad Attijani:
“Dirimu pasti akan menemukan kedudukan al-quthbul kabir Maulana Abil Hasan.”
Agaknya
Al-Wanjali merupakan salah seorang tokoh dari Thariqat Syadziliyah.
Karena isyarat yang diberikan olehnya menunjukkan bahwa Syeikh akan
mencapai kedudukan Abil Hasan Asy-Syadzili. Menurut Al-Wanjali
perjalanan yang telah ditempuh oleh Syeikh dari daerahnya (Ain Madhi)
sampai ke Fas Al-Idrisiyah dan beberapa daerah Maghribi lainnya untuk
mencari seseorang yang dapat mengantarkannya kepada Makrifat Billah
adalah bukti kehendaknya untuk mencapai keinginan tersebut. Al-Wanjali
banyak menyingkap rahasia yang tersimpan dalam diri Syeikh dan
memberitahukan kedudukan yang akan diperolehnya. Meskipun tidak
mengambil wirid dari Al-Wanjali, akan tetapi penyingkapan yang telah
disampaikannya memiliki andil dalam memperkuat cita-cita Syeikh.
Sehingga akhirnya semua itu menjadi kenyataan. Al-Wanjali meninggal
sekitar tahun 1185 H.
Wali Kutub lain yang ditemui Syeikh adalah
Maulana At-Thayib bin Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim Al-Yamlahi.
Sejarah hidup keluarganya sangat terkenal dan banyak ditulis oleh para
pengikutnya sebagai orang besar di Fas. Legenda keluarganya secara
beberapa generasi telah memperoleh kedudukan kutub. Maulana At-Thayib
mewarisi kekhilafahan para pendahulunya dalam memberikan petunjuk kepada
manusia di jalan Alloh dan kesempurnaan makrifatnya. Ia menjadi
khalifah menggantikan saudaranya Maulana At-Tihami yang menggantikan
Sayid Muhammad yang menggantikan Maulana Abdulloh. Diceritakan bahwa
Maulana Abdulloh (w. th. 1089 H.), kakek At-Thayib adalah orang pertama
yang menetap di Wazin. Agaknya keluarga At-Thayib secara turun-temurun
memegang Thariqat Jazuliyah. Hal ini terbukti bahwa kakeknya telah
berkhidmah kepada Ahmad bin Ali Ash-Sharsori, salah seorang tokoh
Thariqat
Jazuliyah.Ciri pokok tarekat ini adalah dengan memperbanyak
shalawat. Ayah At-Thoyib, Sayid Muhammad yang juga mencapai kedudukan
kutub mengatakan: “Seseorang tidak akan memperoleh derajat tertinggi,
melainkan dengan banyak membaca shalawat kepada Nabi SAW.” Sayid
Muhammad meninggal pada Malam Jum’at, tanggal 29 Muharam 1120 H.
Dalam
pertemuannya dengan Ath-Thayib Syeikh mengambil wirid darinya. Bahkan
dalam ijazahnya, At-Thayib telah memberikan izin kepada Syeikh untuk
memberikan talkin pada orang yang hendak mengambil wiridnya. Akan tetapi
Syeikh menolak hak talkin tersebut karena pada saat itu masih mempunyai
cita-cita sendiri dan belum berminat untuk memegang salah satu
jenisnya. Di sini Syeikh menunjukkan ketinggian cita-citanya berdasarkan
asal fitrahnya. Di samping itu Syeikh belum mengetahui akhir
kedudukannya pada waktu tersebut. At-Thayib adalah salah satu guru yang
diakui oleh Syeikh pada awal perjalannya. Beliau wafat pada Hari Ahad,
Bulan Rabiuts Tsani, tahun 1181 H.
Selanjutnya, Syeikh bertemu dengan
Sayid Abdulloh bin Al-Arabi bin Ahmad bin Muhammad bin Abdulloh
Al-Andalusi di Fas. Thariqatnya bercorak Isyrak (konsep cahaya).
Pertemuan ini banyak memperbincangkan beberapa masalah. Meskipun tidak
mengambil sesuatu darinya, Al-Arabi memberikan doa yang sangat berarti
dalam perjalanan Syeikh selanjutnya. Al-Arabi mendoakan kebaikan dunia
dan akhirat dan pada akhir perjumpaannya berkata:
“Alloh akan
menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu
(menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu(menolongmu).”
Al-Arabi
wafat pada tahun 1188 H. Syeikh juga pernah mengambil Thariqat
Qadiriyahnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Fas dari seseorang yang
mempunyai izin untuk mentalkinkannya. Hanya saja kemudian ditinggalkan.
Thariqat
lainnya yang pernah diambil oleh Syeikh adalah Thariqat Nashiriyah dari
Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah An-Nazani. Tidak berapa lama
thariqat ini pun ditinggalkan. Kemudian Thariqat Sayid Muhammad Al-Habib
bin Muhammad, seorang kutub yang masyhur dengan Al-Ghamari As-sijlimasi
Ash-Shadiqi (w. th. 1165 H.) melalui orang yang telah mendapatkan izin.
Thariqat ini pun ditinggalkan.
Selanjutnya Syeikh mengambil ijazah
dari Tokoh Malamatiyah, Sayid Abul Abbas Ahmad Ath-Thawas di Tazah.
Ath-Thawas mengajarkan salah satu isim (nama ilahi) kepadanya dan
berkata:
“Tetaplah khalwat, menyendiri dan dzikir. Sabarlah, sehingga
Alloh memberikan futuh kepadamu. Sesungguhnya dirimu akan memperoleh
kedudukan yang agung.”
Perkataan At-Thawas agaknya tidak ditanggapi oleh Syeikh Ahmad Tijani, sehingga ia mengulangi perkataannya:
“Tetapkanlah
dzikir ini dan abadikan, tanpa harus kholwah dan meyendiri. Maka Alloh
akan memberikan futuh kepadamu atas keadaan tersebut.”
Perkataan
At-Thawas yang kedua ini tidak banyak dikutip. Justeru perkataan pertama
yang banyak ditulis. Padahal perkataan yang kedualah yang menunjukkan
pokok dasar pemikiran Syeikh At-Tijani yang kemudian menjadi ciri utama
Thariqatnya. Di samping itu, Ath-Thawas juga memberikan isyarat dari
kedudukan yang akan diperoleh Syeikh. Beliau melakukan dzikir tersebut
tidak lama, kemudian meninggalkannya. At-Thawas meninggal pada tanggal
18 Jumadil Ula 1204 H di Tazah.
Dalam proses pencarian ini, Syeikh
banyak mengetahui beberapa aliran Thariqat dan mengamalkannya. Meskipun
kemudian tidak diteruskan. Karena adanya Inayah Robbaniyah untuk
menolaknya dan tidak mengambilnya. Kecuali dari Nabi Muhammad SAW secara
langsung. Sebagai kekhasan seorang yang mempunyai cita-cita tinggi.
Sebagaimana
telah diterangkan terdahulu, bahwa setelah melakukan lawatannya ke Fas,
Syeikh menetap di Zawiyahnya Sayid Abdul Qadir bin Muhammad di Shahara
Dzar, tidak jauh dari Ain Madhi. Sebagaimana petunjuk yang diperoleh
sebelumnya. Bahwa futuhnya akan diperoleh di sana.
Syeikh memasuki
Tunisia pada tahun 1180 H. Di daerah Azwawi, Al-Jazair Syeikh menemui
seorang guru besar yang arif, Sayid Abu Abdillah Muhammad bin
Abdurrohman Al-Azhari. Syeikh mengambil Thariqat Khalwatiyah darinya.
Al-Azhari meninggal pada permulaan Muharam tahun 1180 H.
Selanjutnya
Syeikh menuju ke Tilmisan pada tahun 1181 dan menetap di sana. Syeikh
mengabdikan dirinya dengan ibadah dan membaca ilmu. Terlebih Ilmu Hadits
dan Tafsir. Syeikh terus-menerus melakukan taqarrub dengan bertawajjuh
pada keagungan rububiyah dengan menyatakan ke-shidiq-an ubudiyahnya.
Memberikan kemanfaatan kepada manusia dengan keluasan ilmunya. Sehingga
mulai terlihat kefutuhan yang membuka beberapa hijab yang menghalangai
antara seorang hamba dan Alqudus (Alloh). Syeikh menyatakaan hijab yang
tersingkap adalah 165.000 hijab. Maka batinnya dipenuhi oleh cahaya
Tauhid dan Irfan.
Setelah memperoleh banyak penyingkapan di Tilmisan
Syeikh pergi melaksanakan haji dan ziarah kepada Nabi Muhammad SAW.
Syeikh berangkat dari Tilmisan pada tahun 1186 H.
Dalam perjalanannya
Syeikh berhenti di Tunisia dan menetap di Susah, selama setahun. Syeikh
berjumpa dan bersahabat baik dengan seorang wali yang terkenal, Sayid
Abdus Shamad Ar-Rahawi, salah seorang dari 4 murid wali kutub negeri
tersebut. Wali kutub itu sendiri tidak dapat ditemui oleh siapa pun,
kecuali seorang di antara 4 orang muridnya. Pertemuan tersebut hanya
dilakukan pada malam hari, khususnya Malam Jum’at dan Senin. Hal itu
disebabkan untuk menutupi kedudukannya. Syeikh meminta supaya Sayid
Abdus Shamad berkenan mempertemukan dan mengenalkannya. Yang pada
akhirnya Beliau pun dapat berjumpa dengannya.
Thariqat Tijaniyah
adalah Thariqat yang dikembangkan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad.
Mengambil dari nama kabilahnya. Thariqat ini juga masyhur dengan nama
Thariqat Al-Muhammadiyah. Thariqat ini diterima langsung dari Rasululloh
SAW dalam keadaan jaga. Bukan dalam keadaan tidur. Memang sebelum
mendapatkan ijazah langsung dari Rasululloh SAW, Syeikh Ahmad pernah
mengambil beberapa jalur Thariqat dari beberapa Syeikh lain. Seperti
Thariqat Khalwatiyah dari Abi Abdillah bin Abdur Rahman Al-Azhari.
Pada
usia 46 tahun (tahun 1196 H.), Beliau dianugerahi berjumpa dengan
Rasululloh SAW dalam keadaan Yaqdhah (terjaga). Dan sejak saat itu
Rasululloh SAW selalu mendampinginya dan tidak pernah hilang dari
pandangannya. Keadaan inilah yang disebut dengan Al-Fathul Akbar
(terbukanya tirai yang menghalangi antara seseorang dan Rasululloh).
Rasululloh SAW selalu membimbing Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani dan
memerintahkan kepada Syeikh untuk meninggalkan sandaran kepada
guru-gurunya. Karena gurunya sekarang adalah Rasululloh SAW secara
langsung. Sehingga Beliau selalu berkata dengan menyandarkannya kepada
Rasululloh SAW. Ketika itu, Rasululloh SAW mentalkin (mengajarkan)
dzikir/wirid berupa Istighfar dan Shalawat. Masing-masing dibaca 100
kali. Pengajaran dzikir ini disempurnakan oleh Rasululloh SAW pada tahun
1200 H. dengan tambahan Hailalah 100 kali. Dzikir inilah yang
diperintahkan oleh Rasululloh SAW untuk disebarluaskan dan diajarkan
kepada seluruh umat manusia dan jin. Ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad
berusia 50 tahun. Pada Bulan Muharam, tahun 1214 H Syeikh Ahmad bin
Muhammad telah sampai pada martabat Al-Quthub AL-Kamil, Al-Quthbul
Al-Jami’ dan Al-Quthbul Udzhma. Pengukuhan ini dilakukan di Padang
Arafah, Makah Al-Mukaramah.
Pada tahun yang sama, hari ke-18 Bulan
Shafar, Beliau dianugerahi sebagai Al-Khatmu Al-Auliya Al-Maktum
(Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian
diperingati oleh Jamaah, Ikhwan, dan para muhibbin Thariqat Tijaniyah
sebagai Idul Khatmi. Beliau meninggal di Faz, Maroko, tahun 1230 H.
Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi. Keterangan lain dari
Sayyid Zubair, cucu kelima Syekh Ahmad.
Mizaburrhmah, Sayyid Ubaidah bin Muhammad As-Shighir, Hal.: 7, As-Syubiyah, Beirut, Lebanon.
Bughyatul
Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 107, Maktabah Al-Hajj Abdus
Salam bin Muhammad bin Syakron, Maroko. Ibid, Hal.: 108.
Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 29, Khodim Thorikotut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.
Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 112, Maktabah Al-Hajj Abdus Salam bin Muhammad bin Syakron, Maroko.
Ibid.
Ibid, Hal.: 111.
Ibid.
Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 29, Khodim Thorikotut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.
Yang dimaksud Shahra adalah negerinya Syekh At-Tijani. Sebagimana keterangan dalam Bughyatul Mustafid, Hal.: 118.
Bughyatul Mustafid, Hal.: 120.
Ibid.
Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 114, Maktabah Al-Hajj Abdus Salam bin Muhammad bin Syakran, Maroko
Ibid, Hal.: 117.
Ibid.
Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 29, Khodim Thorikotut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi, Hal.: 115-116, Maktabah Al-Hajj Abdus Salam bin Muhammad bin Syakran, Maroko.
Ibid, hal.: 116.
Ibid,
Hal.: 115. Jawahirul Ma’ani lebih memperjelas kewafatannya pada
hari-hari terakhir Rabiuts Tsani. Sehingga memungkinkan bahwa Maulana
At-Thayib wafat pada hari Ahad terakhir bulan dan tahun tersebut.
Jawahirul Ma’ani, Sayid Ali Harazim, I: 38,
Khadim Thariqatut Tijaniyah, Th. 1405 H. / 1984.
Ibid, I: 38.
Ibid. keterangan yang sama dapat dilihat di Bughyatul Mustafid, Hal.: 118.
Bughyatul Mustafid, Hal.: 117-118.
Jawhirul Ma’ani, I: 38.
Ibid.
Sayyidul Auliya Syekh Ahmad At-Tijani, H. A. Fauzan fathulloh, Hal.: 60-64, Manuskrip.
Mizaburrahmah, Sayyid Ubaidah bin Muhammad As-Shighir, Hal.: 7, As-Syubiyah, Beirut, Lebanon.
Proses Kelahiran Thariqat Tijaniyah
Kelahiran
Thariqat Tijaniyah berkait erat dengan kedudukan Syekh Ahmad al-Tijani
sebagai wali al-Quthb al-Maktum, al-Khatm al-Muhammadiyyil Ma’lum;
sebagai telah dikatakan dicapai melalui proses panjang dalam penempaan
derajat kewalian. Sebelum diangkat secara resmi sebagai wali besar,
sebagaimana telah dikatakan sejak usia 7 tahun telah hafal al-Qur’an
kemudian sampai usia 20 tahun beliau mendalami berbagai cabang ilmu
seperti : Ilmu Usul, ilmu Furu’ dan ilmu Adab. Kemudian mulai usia 21
tahun sampai 31 tahun beliau mendalami teori-teori ilmu tasawuf dan
mengamalkan ajaran-ajaran sufi dan dari usia 31 tahun sampai 46 tahun
beliau melakukan disiplin ibadah membersihkan jiwa tenggelam mengamalkan
amalan wali-wali. Dibarengi kunjungan kepada para wali besar di
berbagai belahan daerah di Tunisia, Mesir, Makkah, Madinah, Maroko, Fez,
dan Abi Samgun. Kunjungan kepada wali besar itu dalam upaya
silaturrahmi dan mencari ilmu-ilmu kewalian secara lebih luas. Pada saat
itu pula para wali besar, sebagaimana telah dikatakan melihat dan
mengakui bahwa Syekh Ahmad al-Tijani adalah wali besar bahkan lebih
besar derajatnya dari yang lain. Kesaksian para wali besar atas derajat
kewalian Syekh Ahmad al-Tijani yang tinggi diakui dan disaksikan
dihadapan Syekh Ahmad al-Tijani. Ungkapan kesaksian demikian bisa
terjadi, karena di dunia sufi diakui bahwa seorang wali bisa melihat
wali, derajat kewalian hanya bisa diketahui oleh sesama wali, yang
Hakekatnya berasal dari Allah swt. Derajat wali semata karena Allah,
anugerah dari Allah, tidak bisa diketahui kecuali atas kehendak Allah,
apabila seorang wali dengan ilmu ma’rifahnya dan atas anugerahnya bisa
mengetahui derajat sesama wali. Proses panjang ilmu-ilmu kewalian,
melalui perjalanan panjang kunjungan Syekh Ahmad al-Tijani kepada kepada
pembesar wali, dengan kesaksian-kesaksiannya, berakhir di Padang
Sahara, daerah tempat wali besar Abu Samghun. Pada tahun 1196 H., beliau
pergi ke Sahara tempat Abu Samgun. Di tempat inilah (Pada tahun 1196
H.) Syekh Ahmad al-Tijani mencapai anugerah dari Allah, yaitu“(pembukaan
besar)”. Pada saat al-Fath al-Akbar ini Syekh Ahmad al-Tijani mengaku,
berjumpa dengan Rasulullah saw., melihat Rasulullah saw., secara“(dalam
keadaan sadar lahir batin)”, bukan dalam keadaan mimpi. Saat demikian
menjadi momentum yang penting dan menentukan bagi Syekh Ahmad al-Tijani,
pada saat al-Fath al-Akbar ini Syekh Ahmad al-Tijani mendapat talqin
(pengajaran) tentang wirid-wirid dari Rasulullah saw., berupa Istighfar
100 kali, dan Shalawat 100 kali. Empat tahun kemudian (pada tahun 1200
H.) wirid itu disempurnakan lagi oleh Rasulullah saw., dengan hailallah
(La Ilaha Illa Allah) 100 kali. Wirid-wirid yang diajarkan langsung oleh
Rasulullah saw., melalui al-Fath, perjumpaan secara yaqzhah ini
memberikan kepada Syekh Ahmad al-Tijani otoritas sebagai Shahib
al-Thariqah. Sebagaimana telah dijelaskan, pada saat talqin, Rasulullah
saw., juga menjelaskan ketinggian derajat dan kedudukan wirid yang
diajarkan kepada Syekh Ahmad al-Tijani. Karena kedudukan dan derajat
ajaran wiridnya yang sangat tinggi, Rasulullah saw. memerintahkan kepada
Syekh Ahmad al-Tijani agar hanya berkonsentrasi pada pengamalan wirid
itu, meninggalkan wirid-wirid yang lain, dan juga meninggalkan para wali
yang lain. hal ini menunjukan jaminan Rasulullah saw., atas keunggulan
wirid tersebut, atas wirid-wirid yang lain, dan jaminan Rasulullah saw.,
menjadi pembimbing, penanggung jawab, dan sekaligus perantara dihadapan
Allah sebab, menurut Ali Harazim, melalui Rasulullah saw., segala
sesuatu diturunkan dari Allah swt. Perintah meninggalkan thariqat dan
wali yang lain disebabkan oleh kedudukan Syekh Ahmad al-Tijani yang
tinggi, sebagaimana telah dijelaskan. Atas jaminan-jaminan demikian,
mulailah Syekh Ahmad al-Tijani mengajarkan thariqatnya kepada setiap
ummat Islam yang berminat.
Sistem Dasar Pembentukan Thariqat
Tijaniyah Menurut Syekh al-Sya’rani, sebagaimana dikutip oleh Ali
Harazim, ajaran thariqat kaum sufi berlandaskan kepada al-Qur’an dan
al-Sunnah, serta berasal dari metode suluk yang dipraktikan oleh
Rasulullah saw. Dari landasan ini, unsur sanad (silsilah) yaitu
urutan-urutan guru secara berkesinambungan sampai kepada Rasulullah
saw., sangat penting dalam thariqat. Idealnya, setiap guru dalam sanad
bertemu langsung dengan guru di atas dan seterusnya sampai sumber utama
Rasulullah saw. Namun dalam kenyataannya tidak semua talqin thariqat
menggunakan sanad demikian sebab ada talqin yang disampaikan langsung
antara syekh Thariqat dengan Rasulullah saw. Setelah Rasulullah saw.,
meninggal dunia, sistem demikian biasa dinamakan sistem “Barzakhi”.
Bimbingan Rasulullah saw., kepada para wali dalam keadaan jaga
mengantarkan pada satu pemahaman bahwa amalan wirid para wali termasuk
didalamnya amalan thariqat muncul sebagai buah mujahadahnya dan hal ini
merupakan anugerah Allah swt. Oleh karena itu menurut KH. Badruzzaman
banyak thariqat para wali dasar pembentukannya melalui talqin barzakhi.
Untuk itu ia menyebutnya sebagai thariqat Barzakhiyah artinya amalan
yang diterima dari Nabi Muhammad saw., setelah beliau meninggal dunia.
Selanjutnya dikatakan bahwa semua amalan thariqat besar yang berkembang
di dunia Islam terbentuk melalui talqin barzakhi kecuali thariqat
Qadiriyah, karena sanad thariqat ini bersambung kepada Rasulullah saw.
melalui Sayyidina Ali Kw. Thariqat Tijaniyah termasuk thariqat yang
dasar pembentukannya menggunakan sistem barzakhi. Makna barzakhi dalam
Thariqat Tijaniyah, sebagaimana tergambarkan dalam proses
pembentukannya, bahwa ajaran-ajaran itu tidak diperoleh melalui
pengajaran dari guru-guru sebelumnya, tetapi diperoleh langsung oleh
Syekh Ahmad al-Tijani dari Rasulullah saw., dalam perjumpaan secara
yaqzhah. Pejumpaan dengan melihat Rasulullah saw., walaupun telah berada
di alam barzakh, yang dialami oleh Syekh Ahmad al-Tijani, adalah
peristiwa yang menurut tradisi thariqat, merupakan hal yang biasa dan
bisa terjadi terutama dialami oleh wali-wali besar. Bertemu dengan
Rasulullah dalam keadaan jaga merupakan bagian dari kekaramatan wali.
Dan karamah seperti inilah yang senantiasa diharapkan dan dicita-citakan
oleh para wali Allah swt. Sebab berjumpa dengan Rasulullah saw., dan
melihatnya dengan yaqzhah (dalam keadaan jaga) tidak dalam keadaan tidur
atau mimpi menunjukan jaminan maqam kewalian seseorang dari Rasulullah
saw., sebagaimana akan dilihat nanti. Melihat dasar pembentukan thariqat
tijaniyah sebagai mana disebutkan di atas, bagi orang yang percaya
bahwa hal tersebut memang terjadi, berarti mereka sudah meyakini bahwa
Syekh Ahmad al-Tijani memperoleh kedudukan yang tinggi, dan berarti pula
thariqat tijaniyah adalah thariqat yang mempunyai sanad sampai kepada
Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu amalan Thariqat Tijaniyah adalah
amalan Nabi Muhammad Saw.[]
inilah sebenar syehk at tijani Tentang
pengenalan syekh Ahmad At Tijani, saya akan mengurai Sekilas Biografi
Syekh Ahmad al-Tijani. Semoga bermanfaat. Syekh Ahmad al-Tijani,
dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di
Al-Jazair. Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah
saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn
Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi
Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn
Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah
al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib,
dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw. Beliau wafat pada
hari Kamis, tanggal 17 Syawal tahun 1230 H., dan dimakamkan di kota Fez
Maroko. Sejak umur tujuh tahun Syekh Ahmad al-Tijani telah hafal
al-Qur’an dan sejak kecil beliau telah mempelajari berbagai cabang ilmu
seperti ilmu Usul, Fiqh, dan sastra. Dikatakan, sejak usia remaja, Syekh
Ahmad al-Tijani telah menguasai dengan mahir berbagai cabang ilmu agama
Islam, sehingga pada usia dibawah 20 tahun beliau telah mengajar dan
memberi fatwa tentang berbagai masalah agama. Pada usia 21 tahun,
tepatnya pada tahun 1171 H. Syekh Ahmad al-Tijani pindah ke kota Fez
Maroko. untuk memperdalam ilmu tasawuf. Selama di Fez beliau menekuni
ilmu tasawuf melalui kitab Futuhat al-Makiyyah, di bawah bimbingan
al-Tayyib Ibn Muhammad al-Yamhalidan Muhammad Ibn al-Hasan al-Wanjali.
Al-Wanjali mengatakan kepada Syekh Ahmad al-Tijani : “Engkau akan
mencapai maqam kewalian sebagaimana maqam al-Syazili”. Selanjutnya
beliau menjumpai Syekh Abdullah Ibn Arabi al-Andusia, dan kepadanya
dikatakan : (Semoga Allah membimbingmu); “Kata-kata ini di ulang sampai
tiga kali”. Kemudian beliau berguru kepada Syekh Ahmad al-Tawwasi, dan
mendapat bimbingan untuk persiapan masa lanjut. Ia menyarankan kepada
Syekh Ahmad al-Tijani untuk berkhalwat (menyendiri) dan berzikir (zikr)
sampai Allah memberi keterbukaan (futuh). Kemudian ia mengatakan :
“Engkau akan memperoleh kedudukan yang agung (maqam ‘azim)”.
Ketika
Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia 31 tahun, beliau mendekatkan diri
(taqarrub) kepada Allah swt., melalui amalan beberapa thariqat. Thariqat
pertama yang beliau amalkan adalah thariqat Qadiriyah, kemudian pindah
mengamalkan thariqat Nasiriyah yang diambil dari Abi Abdillah Muhammad
Ibn Abdillah, selanjutnya mengamalkan thariqat Ahmad al-Habib Ibn
Muhammaddan kemudian mengamalkan thariqat Tawwasiyah. Setelah beliau
mengamalkan beberapa thariqat tadi, kemudian beliau pindah ke Zawiyah
(pesantren sufi) Syekh Abd al-Qadir Ibn Muhammad al-Abyadh. Pada tahun
1186 H. Beliau berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji.
Ketika beliau tiba di Aljazair, beliau menjumpai Sayyid Ahmad Ibn Abd
al-Rahman al-Azhari seorang tokoh thariqat Khalwatiah, dan beliau
mendalami ajaran thariqat ini. Kemudian beliau berangkat ke Tunise dan
menjumpai seorang Wali bernama Syekh Abd al-Samad al-Rahawi. Di kota ini
beliau belajar thariqat sambil mengajar tasawuf.
Ajaran dan Dzikir
Tarekat Tijaniyah Sejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis
tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya
dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya
Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf
al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr
al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama
ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai
panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah
pada abad ke-19. Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat
sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari
Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100
kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan
Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istghfar (astaghfirullah al-adzim
alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali,
Shalawat Fatih (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-fatih lima
ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi
ila shirat al-mustaqim wa’ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim)
sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan
ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali. Pembacaan wadhifah
ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan
malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu,
setiap hari Jum’at membaca Hayhalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan
Allah, Allah, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal
dzikir ini at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjamaah. Beberapa
syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan
wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat,
tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat. Satu
hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah — yang
membedakannya dengan tarekat-tarekat lain — adalah bahwa tujuan dzikir
dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih
menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi SAW, bukan kemanunggalan
dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan
kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut
tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau
At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi
SAW. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang
ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan
lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali
dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang
ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatikdan
metafisis sufi. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan
milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal.
Mu’assis
Thoriqoh Tijaniyyah ini adalah wali khatmi wal katmi Sayidisy Syaikh
Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijani radliyallahu ‘anhu (1150-1230
H). Jalur nasab ayahnya bersambung sampai kepada Sayidina Hasan
As-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib radliallahu anhum.
Pada tahun 1196
H, Syaikh Ahmad At-Tijani pergi ke sebuah tempat yang tenang dan barakah
di padang sahara, yang di situ tinggal seorang wali agung Abu Samghun.
Di tempat itu beliau memperoleh alfath al-akbar (anugerah yang sangat
besar) dari Allah Subhanahu wa ta'ala, yaitu bermuwajahah (bertatap
muka) dengan Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam secara yaqadhah
(keadaan jaga/bukan mimpi). Pada saat itu Rasulullah mentalqin beliau
untuk; a).Wirid istighfar 100 kali dan shalawat 100 kali, dan
b).mentalqinkan wirid tersebut kepada umat Islam yang berminat sekalipun
berdosa. Dan juga bersabda kepada beliau: ”Tidak ada karunia bagi
seorang makhluk pun dari para guru thoriqoh atas kamu. Akulah wasilah
(perantaramu dan pembimbingmu dengan sebenar-benarnya), maka
tinggalkanlah semua thoriqoh yang telah kamu ikuti.”
Pelaksanaan
wirid tersebut berjalan selama empat tahun. Dan pada tahun 1200 H, wirid
itu disempurnakan oleh Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam dengan
ditambah “lailallah” (Laa ilaaha illallah). Thoriqoh Tijaniyah ini
tersebar luas di Mesir, Kepulauan Arab, sebagian penjuru Asia, Afrika
Hitam, dan juga di barat Afrrika. Para pengikut Thoriqoh ini mempunyai
sumbangan yang besar terhadap Islam, karena mereka telah menyebarkan
prinsip-prinsip Islam ke tengah-tengah kaum penyembah berhala di Afrika,
dan memasukkan mereka ke dalam Islam, sebagaimana sumbangan mereka yang
juga besar dalam menolak misi para misionarris Nasrani di Afrika. Kitab
tentang sejarah thoriqoh ini serta dzikir-dzikirnya telah ditulis oleh
para guru Tijaniyah, yaitu Jawahirul Ma’ani wa Bulughul Amani fi Faidl
Asy-Syaikh At-Tijani atau yang juga dikenal dengan kitab Al-Kanais.
Tata Cara Thoriqoh Tijaniyah
Thariqah
Tijaniyah di dalam mendidik mengarahkan dan membina para muridnya yang
dalam istilah mereka disebut Ikhwan Thariqah Tijaniyyah atau Ikhwan
Tijani mempunyai syarat- syarat dan aturan- aturan sebagai berikut;
A.Syarat Masuk Untuk memasuki atau mengambil wirid dzikir dari Thariqah Tijaniyah, seorang
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut;
1. Calon Ikhwan Tijaniy tidak mempunyai wirid Thariqah.
2. Mendapatkan talqin wirid Thariqah Tijaniyah dari orang yang mendapat izin yang sah untuk
memberi wirid Thariqah Tijaniyah. Keterangan
3. Apabila calon Ikhwan Tijaniy telah masuk thariqah lainnya, maka harus dilepaskan. Karena
Thariqah Tijaniyah tidak boleh dirangkap dengan thariqah lainnya.
4. Wirid dari selain Syaikh Ahmad At-Tijaniy yang tidak termasuk ikatan thariqah, seperti hizib-
hizib, shalawat dan sebagainya, boleh diwiridkan oleh Ikhwan Tijaniy selama tidak
mengurangi kemantapannya terhadap Thariqah Tijaniyah
B. Kewajiban Ikhwan Tijaniy Setelah seorang tercatat sebagai Ikhwan tijaniy, maka dia
mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai berikut:
1. Harus menjaga syari’at.
2. Harus menjaga shalat lima waktu berjama’ah bila mungkin.
3. Harus mencintai Syaikh Ahmad At-Tijani selama-lamanya.
4. Harus menghormati siapa saja yang ada hubungannya dengan Syaikh Ahmad At-Tijani.
5. Harus menghormati semua Wali Allah dan semua thariqah.
6. Harus mantap pada thariqahnya dan tidak boleh ragu-ragu.
7. Selamat dari mencela Thariqah Tijaniyah.
8. Harus berbuat baik kepada kedua orang tua.
9. Harus menjauhi orang yang mencela Thariqah Tijaniyah.
10. Harus mengamalkan Thariqah Tijaniyah sampai akhir hayatnya.
C.Larangan atas Ikhwan Tijani
Adapun hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang ikhwan tijani adalah sebagai berikut;
1.Tidak boleh mencaci, membenci dan memusuhi Syaikh Ahmad At-Tijaniy.
2.Tidak boleh ziarah kepada wali yang bukan Tijani, khusus mengenai robithah saja.
3.Tidah boleh memberi wirid Thariqah Tijaniyah tanpa ada izin yang sah.
4.Tidak boleh meremehkan wirid Thariqah Tijaniyah.
5.Tidak boleh memutuskan hubungan dengan makhluk tanpa izin syara’,terutama dengan ikhwan
Tijani.
6.Tidak boleh merasa aman dari makrillah.
Keterangan
- Ziarah kepada wali yang bukan Tijani yang tidak boleh adalah ziarah karena istimdad
tawassul,dan do’a. Sedangkan ziarah untuk silaturrahim, untuk mengaji/menuntut ilmu atau
ziarah semata-mata karena Allah Swt, maka boleh.Bagi Ikhwan Tijani yang belum tahu ziarah
yang boleh dan yang tidak boleh, hendaknya jangan melaksanakan ziarah, karena bisa
membatalkan keterikatannya dengan Thariqah Tijaniyah.
- Yang dimaksud meremehkan wirid ialah musim-musiman dalam melaksanakan wirid Thariqah
Tijaniyah, mengundurkan waktunya tanpa udzur dan melakukan wirid dengan bersandar tanpa
adanya udzur
- Makrillah adalah siksa /azab Allah yang tampaknya seperti rahmat-Nya.
D .Aturan Melaksanakan Dzikir
Seorang
Ikhwan Tijani yang akan melaksanakan wirid atau dzikir Thariqah
Tijaniyah, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut;
1.Dalam keadaan normal, suara bacaan dzikir harus terdengar oleh dirinya sendiri.
2.Harus suci dari najis,baik badan, pakaian,tempat dan apa saja yang dibawanya.
3.Harus suci dari hadats, baik besar maupun kecil.
4.Harus menutup aurat seperti shalat, baik pria maupun wanita.
5.Tidak boleh berbicara.
6.Harus menghadap kiblat.
7.Harus dengan duduk.
8.Harus ijtima’ dalam melaksanakan dzikir wadhifah dan dzikir hailalah sesudah ‘Ashar pada
hari jum’at apabila di daerahnya ada ikhwan Tijani lain.
9.Istihdlorul-Qudwah, yaitu saat melakukan wirid dari awal hingga akhir membayangkan
seakan-akan berada di hadapan Syaikh Ahmad At-Tijani dan lebih utama membayangkan
Sayyidil Wujud Muhammad Saw, dengan keyakinan bahwa beliaulah yang mengantarkan
wushul kepada Allah Swt.
j. Mengingat dan memikirkan makna wirid dari awal sampai akhir. Kalau tidak bisa, hendaknya
memperhatikan dan mendengarkan bacaan wiridnya.
Keterangan
-Kalau ada udzur boleh berbicara asal tidak lebih dari dua kata. Kalau lebih dari itu, maka
wiridnya batal, kecuali disebabkan oleh orangtuanya atau suaminya sekalipun bukan ikhwan
Tijani.
- Kalau ada udzur boleh tidak menghadap kiblat, seperti sedang dalam perjalanan atau sedang
berada dalam ijtima’ (perkumpulan).
-Kalau ada udzur boleh tidak duduk, seperti sakit atau dalam perjalanan.
E.Penyebab keluar dari Thariqah Tijaniyah
Seorang Ikhwan Tijani dianggap keluar dari Thariqah ini jika:
1. Mengambil wirid dari thariqah lain.
2. Melanggar larangan ziarah kepada wali yang di luar Tijani.
3. Berhenti dari Thariqah Tijaniyah.
F.Aurad Thariqah Tijaniyah
Di
dalam Thariqah Tijaniyah ada dua macam dzikir :yaitu 1).Dzikir Lazim
(yang harus di amalkan) dan 2).Dzikir Ikhtiyari (yang lebih baik kalau
di amalkan). Dan pada kesempatan ini hanya dzikir lazim saja yang akan
di jelaskan secara agak terperinci. Dzikir lazim yang harus di amalkan
oleh setiap ikhwan tijani terdiri dari tiga macam:
A.Wirid Lazim
Waktu
Pelaksanaan Wirid lazim di amalkan dua kali sehari semalam, yaitu yang
pertama, pagi hari (setelah shubuh sampai waktu dhuha).Apabila ada
udzur, maka waktunya bisa di undur sampai waktu maghrib. Lebih baik
serta memperoleh keutamaan yang besar, jika diamalkan sebelum waktu
shubuh dengan syarat harus selesai ketika waktu shubuh telah tiba.
Kedua, sore hari (setelah ashar sampai waktu isya’). Apabila ada udzur,
maka waktunya bisa diundur sampai waktu shubuh. Bacaan Wirid Lazim
1.Hadlrah Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad Saw dan Sayyidisy Syaikh Abil Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijaniy.
2.Membaca istighfar 100 kali.
3.Membaca Shalawat Nabi 100 kali, berupa shalawat fatih sebagai berikut:
اللهم
صل على سيدنا محمد الفاتح لما اغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق
والهدى الى صراطك المستقيم وعلى اله حق قدره ومقداره العظيم
Atau Shalawat biasa ;
صل على سيدنا محمدلا اله الا الله محمد رسول الله عليه سلام الله Atau اللهم صل على سيدنا محمد
4.Membaca tahlil /hailalah 100 kali, yang terakhir kalinya dipanjangkan lalu disambung dengan:
لا اله الا الله محمد رسول الله عليه سلام الله
B.Wirid Wadhifah
Waktu
Pelaksanaan Wirid wadhifah dilaksanakan dua kali dalam sehari semalam,
yaitu siang hari dan malam hari. Kalau tidak bisa dua kali, maka cukup
sekali saja yaitu siang hari saja atau malam hari saja. Apabila dalam
sehari semalam tidak melaksanakan sama sekali maka wajib mengqodlo’.
Demikian pula jika wirid lazim sudah habis tapi belum
mengerjakannya,maka harus diqodlo’ juga. Bacaan Wirid Wadhifah
1.Hadlrah Al-Fatihah sama dengan wirid lazim.
2. Membaca shalawat fattih sekali
3. Membaca isighfar 30 kali sebagai berikut:
استغفر الله العظيم الذى لا اله الا هو الحي القيوم
4. Membaca Shalawat fatih 50 kali.
5. Membacatahlil atau hailalah 100 kali yang ditutup seperti pada wirid lazim.
6. Membaca Shalawat Jauharaul Kamal 12 kali sebagai berrikut:
اللهم
صل وسلم على عين الرحمة الربانية والياقوتة المتحققة الحائطة بمركز الفهوم
والمعانى ونور الاكوان المتكونة الادمي صاحب الحق الرباني البرق الاسطع
بمزون الارباح المالئة لكل متعرض من البحور والاوانى ونورك اللامع الذى
ملأت به كونك الحائط بامكنة المكانى, اللهم صل وسلم على عين الحقق
التىتتجلىمنها عروش الحقائق عين المعارف الاقوام صراطك التام الأسقم.
اللهم صل وسلم على طلعة الحق بالحق الكنز الاعظم افاضتك منك اليك احاطة النور المطلسم صلى الله عليه وعلى اله صلاة تعرفنا بها اياه.
7. Membaca do’a semampunya.
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.
8.Diakhiri dengan membaca Al-Fatihah sekali dan shalawat fatih sekali.
C.Wirid Hailalah
Waktu
Pelaksanaan Wirid hailalah dilakukan setelah shalat ‘Ashar hari jum’at
sampai waktu maghrib. Apabila ada udzur dan tidak bisa melaksanakannya
sampai waktunya habis, tidak usah di qodlo’. Bacaan Wirid Hailalah Yang
dibaca pada saat melaksanakan wirrid hailalah adalah “Laa ilaaha
illallah” atau “Allah” tanpa hitungan, mulai setelah melaksanakan shalat
‘Ashar sampai maghrib. Kalau sendirian, membaca sebanyak 1600 kali,atau
1500 kali, aau 1200 kali atau 1000 kali . Dan di akhiri dengan bacaan:
لا اله الا الله سيدنا محمد رسول الله عليه سلام الله عليه وسلم.
Dengan suara keras dan memanjangkan bacaan “Laa ilaaha illallah”,lalu membaca:
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.
Syarat
Membaca Jauharatul Kamal Dalam melaksanakan pembacaan wirid Shalawat
Jauharatul Kamal ada syarat-syarat yang harus di penuhi, yaitu sebagai
berikut;
a.Harus dalam keadaan suci dari:
1).Najis, baik pada badan, pakaian, tempat, dan apa saja yang dibawanya.
2).Hadats, baik hadats kecil atau besar dan bersucinya harus dengan air. Jadi tidak boleh dengan
tayamum.
b.Harus menghadap qiblat.
c.Harus duduk dan tidak boleh berjalan.d.Tempatnya harus luas dan cukup dengan tujuh orang.